Site icon

Pengelolaan Returnable Transport Items (RTI) dalam Warehouse

Returnable Transport items

Apakah warehouse anda sering mengalami keterlambatan proses akibat ketidaktersediaan media handling seperti pallet, keranjang, dolly, atau roll cage? Masalah ini merupakan masalah yang hampir selalu terjadi, namun jarang menjadi prioritas utama dalam perbaikan sistem. Aktivitas inbound bisa tertunda karena tidak ada pallet kosong, proses picking melambat karena kekurangan keranjang, dan outbound tidak berjalan optimal karena roll cage masih tertahan di store atau vendor. Kondisi ini sering dianggap sebagai kendala operasional biasa yang dapat diselesaikan dengan improvisasi di lapangan, padahal jika ditelusuri lebih dalam, masalah tersebut bersifat sistemik dan terus berulang.

Banyak perusahaan tidak menyadari bahwa akar permasalahan ini terletak pada pengelolaan Returnable Transport Items (RTI) yang belum optimal. RTI adalah elemen penting dalam pergerakan barang di warehouse, namun karena sifatnya yang reusable dan tidak langsung menghasilkan revenue, pengelolaannya sering diabaikan. Akibatnya, RTI menjadi bottleneck tersembunyi yang berdampak langsung terhadap throughput, efisiensi biaya, dan kualitas layanan.

RTI sebagai Aset Strategis yang Belum Dikelola dengan Baik

Returnable Transport Items (RTI) mencakup pallet, crate, tote, roll cage, dan berbagai media handling lain yang digunakan secara berulang dalam proses logistik. RTI berperan sebagai enabler utama dalam pergerakan barang, mulai dari inbound, storage, hingga outbound. Tanpa RTI, operasional warehouse tidak dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Namun dalam praktiknya, banyak perusahaan di Indonesia masih memperlakukan RTI sebagai alat bantu operasional, bukan sebagai aset strategis. Hal ini menyebabkan tidak adanya sistem kontrol yang jelas terkait jumlah, lokasi, dan tingkat utilisasi RTI. Berbeda dengan inventory yang memiliki sistem tracking yang ketat, RTI sering kali tidak memiliki visibilitas yang memadai.

Akibatnya, perusahaan menghadapi berbagai masalah seperti kehilangan RTI, ketidakseimbangan distribusi, serta meningkatnya biaya penggantian. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan biaya tersembunyi yang sulit dikendalikan dan berdampak pada profitabilitas perusahaan.

Dari Inefisiensi hingga Penurunan Service Level

Pengelolaan RTI yang tidak optimal memberikan dampak langsung terhadap operasional warehouse. Salah satu masalah yang paling sering terjadi adalah ketidakseimbangan distribusi Returnable Transport Items (RTI) antar lokasi. Tidak jarang ditemukan kondisi di mana satu warehouse memiliki kelebihan RTI, sementara warehouse lain mengalami kekurangan.

Situasi ini sering diperparah oleh kurangnya visibilitas terhadap posisi RTI di seluruh jaringan supply chain. Store cenderung menahan RTI lebih lama dari yang seharusnya, vendor tidak mengembalikan tepat waktu, dan tidak ada mekanisme kontrol yang memastikan aliran RTI berjalan dengan baik. Akibatnya, perusahaan mengalami kondisi false shortage, yaitu kekurangan RTI yang sebenarnya disebabkan oleh distribusi yang tidak merata.

Dampak dari kondisi ini sangat nyata, terutama saat peak season seperti Harbolnas, Ramadhan, dan akhir tahun. Volume order yang tinggi membuat setiap ketidakefisienan menjadi semakin terlihat. Kekurangan RTI dapat menyebabkan delay pada proses loading, penurunan produktivitas tenaga kerja, penumpukan barang di staging area, serta penurunan service level.

Banyak perusahaan mencoba mengatasi masalah ini dengan menambah tenaga kerja atau meningkatkan shift kerja, namun tanpa perbaikan pada pengelolaan RTI, solusi tersebut tidak akan memberikan hasil yang optimal.

Keterbatasan Sistem Manual dan Tantangan Digitalisasi

Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih menggunakan sistem manual dalam pengelolaan Returnable Transport Items (RTI), seperti pencatatan menggunakan spreadsheet, form manual, atau komunikasi melalui aplikasi pesan. Pendekatan ini memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal visibilitas dan akurasi data.

Tidak adanya real-time visibility membuat perusahaan sulit mengetahui posisi Returnable Transport Items (RTI) secara akurat. Selain itu, risiko human error menjadi sangat tinggi, dan proses audit menjadi sulit dilakukan. Dalam skala operasional yang besar, sistem manual tidak mampu mengikuti kecepatan pergerakan RTI, sehingga perusahaan sering kali berada dalam kondisi reaktif.

Di sisi lain, teknologi seperti RFID dan Bluetooth Low Energy (BLE) menawarkan solusi untuk meningkatkan visibilitas RTI secara real-time. Dengan teknologi ini, setiap RTI dapat memiliki identitas unik dan dapat dilacak pergerakannya di seluruh jaringan supply chain. Perusahaan dapat mengetahui lokasi RTI, mengukur utilisasi, serta mengidentifikasi potensi kehilangan lebih cepat.

Namun, implementasi teknologi ini di Indonesia tidak lepas dari berbagai tantangan, seperti biaya investasi yang tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta kurangnya disiplin operasional. Banyak implementasi gagal karena perusahaan terlalu fokus pada teknologi tanpa memperhatikan kesiapan organisasi dari sisi proses dan sumber daya manusia.

Strategi Implementasi yang Realistis untuk Indonesia

Untuk meningkatkan pengelolaan Returnable Transport Items (RTI), perusahaan tidak harus langsung melakukan transformasi besar. Pendekatan yang lebih efektif adalah dilakukan secara bertahap, dimulai dari hal yang paling mendasar.

Langkah pertama adalah menentukan ownership RTI yang jelas, sehingga setiap pihak memiliki tanggung jawab terhadap aset yang digunakan. Selain itu, perusahaan perlu menetapkan KPI sederhana seperti tingkat ketersediaan, turnaround time, dan tingkat kehilangan RTI.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan visibilitas melalui sistem tracking sederhana berbasis lokasi. Perusahaan juga perlu memperkuat proses operasional dengan menetapkan SLA pengembalian RTI serta mekanisme kontrol yang jelas.

Setelah fondasi tersebut terbentuk, perusahaan dapat mulai mengadopsi teknologi secara bertahap, dimulai dari area dengan throughput tinggi. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk meminimalkan risiko dan memastikan bahwa investasi yang dilakukan memberikan hasil yang optimal.

Berikut adalah contoh sederhana bagaimana perusahaan dapat mulai mengelola RTI secara lebih sistematis dalam operasional warehouse:

Jenis RTILokasi Saat IniQty AvailableQty In TransitSLA Return (Hari)Actual Return (Hari)StatusAction
Pallet KayuDC Jakarta1.20030035OverdueFollow up store
Roll CageStore Bandung1505024OverdueEskalasi ke area manager
Keranjang PlastikDC Surabaya80020022On TrackMonitor
DollyVendor A602057OverdueCharge penalty
CrateDC Medan50010033On TrackMaintain

Dari tabel ini, perusahaan sudah bisa mulai melihat:

Returnable Transport Items sebagai Kunci Efisiensi Warehouse

Returnable Transport Items (RTI) bukan lagi sekadar alat bantu operasional, melainkan bagian dari infrastruktur yang menentukan kinerja warehouse secara keseluruhan. Pengelolaan RTI yang baik dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya, serta meningkatkan kualitas layanan.

Di Indonesia, masih banyak perusahaan yang belum menyadari pentingnya RTI sebagai aset strategis. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, RTI dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang signifikan.

Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, kemampuan untuk mengoptimalkan aset yang sudah dimiliki menjadi kunci keberhasilan. RTI adalah salah satu area dengan potensi improvement terbesar, namun masih sering diabaikan. Perusahaan yang mampu mengelola RTI secara efektif akan memiliki keunggulan dalam menghadapi tantangan supply chain yang semakin kompleks.

Youtube Channel

Slideat SpeakerDeck

Exit mobile version